Saturday, November 29, 2008

Apakah itu Ucapan Syukur ?

“Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” (Efesus 5:20)


Kapan kita mengucap syukur ?

Pernahkah kita bertanya pada diri kita sendiri, berapa kalikah dalam sehari kita mengucap syukur pada Tuhan ? Jika tidak dalam sehari, barangkali dalam seminggu ? sebulan ? atau bahkan setahun ? Atau barangkali kita berpikir adakah sesuatu yang patut kita syukuri hari ini ?

Waktu cepat berlalu, tidak terasa kita telah sampai pada penghujung tahun. Adakah didalam hari-hari yang telah lewat yang membuat kita bersyukur kepada Tuhan? Hari-hari yang kita jalani memang adalah hari yang biasa, dan kita menghabiskannya dengan rutinitas pekerjaan yang setiap hari kita ulangi kembali. Setiap hari kita lewati dengan pekerjaan / kegiatan yang rutinitas dilakukan. Pernahkah kita berpikir bahwa hari ini akan kita jalani dengan sesuatu yang baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain.


Apa yang patut kita syukuri ?

Jika kita berpikir dan mengingat-ingat kembali perbuatan Tuhan dalam kehidupan kita , baru kita dapat membuat sederet alasan untuk berterima kasih dan mengucap syukur padaNya. Seringkali kita berkata, “ aku mengucap syukur karena telah disembuhkan dari sakit, karena hari ini aku mendapat untung besar, karena hasil nilai ujian bagus, karena pekerjaan ku dipuji oleh atasanku , dan sebab-sebab yang lainnya yang menguntungkan diri sendiri ataupun adanya suatu keadaan yang tadinya tidak baik menjadi baik. Tapi pernahkan kita bersyukur tanpa adanya alasan untuk mengucap syukur. Kita tidak perlu mencari-cari alasan untuk mengucap syukur. Ucapan syukur bisa dilakukan secara spontan dan tidak perlu memikirkan apakah kita patut mengucap syukur atas perbuatan yang telah Tuhan lakukan pada kita. Kita mengucap syukur bukan saja karena sesuatu menjadi baik ataupun karena Tuhan telah menolong kita. Kita dapat mengucap syukur meskipun Tuhan tidak melakukan apa-apa untuk kita dan keadaan tidak menjadi baik. Kita mengucap syukur karena Allah layak untuk menerima ucapan syukur dari kita.

Seharusnya ucapan syukur dapat kita lakukan untuk hal-hal yang belum kita terima. Namun kadangkala kita baru mau mengucap syukur setelah kita mendapatkan sesuatu yang menjadi keinginan kita. Sebenarnya kita dapat berterima kasih pada Tuhan untuk sesuatu yang tidak atau belum kita dapatkan. Kita dapat berkata : “ Tuhan, terima kasih untuk hari esok yang belum saya jalani” , atau “Tuhan, terima kasih untuk pekerjaan yang akan saya terima” (meskipun kita belum mendapatkan pekerjaan tersebut). Seperti ada tertulis dalam Markus 11 : 24 “Karena itu Aku berkata kepadamu : apa saja yang kamu minta dan doakan, percayalah bahwa kamu telah menerimanya, maka hal itu akan diberikan kepadamu”. Hal tersebut juga akan menjadikan kita belajar untuk mengucap syukur di setiap keadaan.

Pernahkah kita mengucap syukur untuk sesama kita? Sepertinya kita tidak pernah bersyukur atas kehidupan orang lain, yang kita pikirkan hanyalah diri kita sendiri dan biasanya kita mengucap syukur hanya untuk kepentingan kita sendiri. Kita lebih suka menerima daripada memberi sehingga ucapan syukur untuk orang lain pun tidak pernah kita ucapkan. Kita dapat belajar dari kehidupan Paulus yang selalu mengucapkan syukur dan doa pada setiap suratnya yang ditujukan kepada jemaat dan sahabat-sahabatnya yang dapat kita lihat dari pasal pertama dari setiap suratnya. Ini menunjukkan bahwa Paulus sangat memperhatikan orang lain dengan mengucap syukur dan berdoa untuk mereka. Seperti suratnya kepada Timotius, “Pertama-tama aku menasihatkan : Naikkanlah permohonan, doa syafaat dan ucapan syukur untuk semua orang “ ( I Timotius 2:1 )


Maukah kita belajar membiasakan diri untuk mengucap syukur ?

Ucapan Syukur harus menjadi kebiasaan yang harus terus menerus diucapkan setiap saat. Kita bisa berterima kasih pada Tuhan setiap saat untuk semua hal dan semua keadaan.

Memang aneh rasanya jika kita belum terbiasa melakukan ucapan syukur tanpa suatu alasan, tapi kita dapat belajar untuk mengucap syukur setiap saat, setiap waktu, dan di setiap keadaan baik untuk kita sendiri maupun orang lain.

Ucapan syukur seharusnya menjadi bagian dari kehidupan kita sebagai ciptaan Allah, bukan hanya pada saat – saat tertentu, tapi setiap saat, setiap waktu dari setiap keadaan. Seperti Daud yang mengajarkan kita untuk senantiasa mengucap syukur, “adalah baik untuk menyanyikan syukur kepada Tuhan .“ (Mazmur 92:2).

Saat ini kita dapat bertanya pada diri sendiri, apakah hari ini saya sudah mengucap syukur ?

Sunday, September 21, 2008

Lintas Peristiwa
Pembinaan Komisi Anak - Psikologi Anak

“Haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.” (Ulangan 6 : 7)


Setelah beberapa kali diwartakan, akhirnya hari yang ditunggu pun tiba. Pada hari Minggu, tanggal 14 September 2008 Komisi Anak GKI Kemang Pratama mengadakan acara Pembinaan Anak mengenai Psikologi Anak dengan Pembicara Ibu Kezia Sylvia Aritonang, S.Psi, MACM. Acara pembinaan ini dumulai pukul 12.00 bertempat di Ruang Kebaktian. Hampir semua GSM ditambah beberapa orang dari aktivis gereja yang hadir pada acara pembinaan tersebut. Acara terbagi dalam 2 session yaitu Session I tentang Mengenal Perkembangan & Karakter Anak Sekolah Minggu kemudian diselingi dengan coffee break lalu dilanjutkan dengan session II mengenai Menerapkan Disiplin Pada Anak Sekolah Minggu.

Acara pembinaan ini berlangsung dengan suasana yang serius tapi santai dikarenakan ditengah tengah acara diselingi dengan beberapa lagu yang dilakukan dengan gerakan. Pada session I dibahas mengenai bagaimana kita dapat membangun karakter seorang anak yang dilandaskan pada Firman Tuhan. Karena penting bagi kita untuk dapat mengarahkan karakter seorang anak menjadi karakter yang kuat dan mempunyai suara hati yang benar. Seorang anak sangat memerlukan karakter Ilahi yang kuat untuk dapat bertahan teguh di tengah perkembangan zaman yang semakin hancur moralitasnya. Tanpa karakter yang kuat , seseorang akan selalu berada pada posisi yang rawan untuk jatuh. Seorang anak dengan karakter yang lemah, akan berkata “ya” pada kawannya yang mengajaknya untuk berbuat sesuatu yang tidak sesuai dengan firman Tuhan contohnya mencoba merokok, bolos sekolah dan narkoba. Seorang anak tanpa karakter yang kuat, pendidikannya mungkin akan hancur, pekerjaan ataupun pernikahannya kelak mungkin juga akan hancur dan yang terpenting jiwanya tidak terselamatkan. Dalam session ini ditegaskan bahwa membangun karakter seorang anak diperlukan kerjasama dari semua pihak , yang diawali oleh orang tua di rumah dan diperteguh oleh guru di sekolah dan Guru Sekolah Minggu / Hamba Tuhan di Gereja.

Sedangkan pada session ke II menerangkan tentang bagaimana kita sebagai Guru Sekolah Minggu maupun orang tua di rumah dapat menerapkan disiplin pada seorang anak. Langkah pertama dalam menangani disiplin adalah dengan memahami mengapa seorang anak berperilaku tidak benar (misbehave) dan kita harus mencari tahu latar belakang mengapa seorang anak menjadi nakal , menggangu temannya ataupun berbuat sesuatu yang menggangu kegiatan belajar mengajar di kelas. Ada beberapa sebab mengapa anak-anak “misbehave” yaitu ingin mendapat pengakuan dari teman-teman satu kelompok, tidak adanya peraturan yang jelas di kelas, pengaturan ruangan/tempat duduk yang sesak, dan lain-lain. Karena pada intinya semua anak ingin diperhatikan, disayang dan dihargai.
Disiplin dapat diterapkan pada kelas sekolah minggu maupun dirumah dengan membuat peraturan dan tujuan yang jelas yang dilakukan secara konsisten.

Acara pembinaan ini menarik dan tidak membosankan dikarenakan pembicara banyak memberikan contoh-contoh nyata yang sudah pernah dicoba dilakukan oleh si pembicara sendiri kepada anak sekolah minggu di tempatnya maupun kepada anaknya sendiri. Acara pembinaan ini sangat banyak manfaatnya bagi GSM maupun orangtua yang ingin membangun karakter Ilahi dan menerapkan disiplin pada anaknya. Acara Pembinaan seperti seharusnya dapat diadakan kembali dengan mengundang seluruh jemaat GKI Kemang Pratama.

Kita sebagai Komisi Anak adalah jembatan antara seorang anak dengan Kristus yang didukung oleh orang tua, dan pentingnya diadakan ‘parenting class’ agar dapat diambil suatu keputusan bersama dari pihak Komisi Anak maupun dari pihak orang tua agar dapat tercapai satu visi dan misi yang jelas bagi Anak Sekolah Minggu.

Akhirnya acara ini selesai pada pukul 17.00 dengan sebelumnya diadakan tanya jawab, evaluasi antar Guru kelas dan ditutup dengan foto bersama.
“Ubahlah Aku, Tuhan”

Tuhan tidak akan mengubah siapapun yang berurusan dengan kita sebelum Dia lebih dahulu mengubah kita Tetapi jika kita mau berhenti mengeluh tentang semua orang di sekitar kita dan bekerja sama dengan Tuhan, sehingga cara pandang kita dan karakter kita yang diubahkan menjadi karakter yang lebih baik. Tuhan dapat memakai orang lain maupun keadaan-keadaan dalam kehidupan kita untuk menolong kita menjadi lebih baik. Ada seseorang yang tidak tahan dengan atasannya yang cerewet, dan dia berpikir kapan Tuhan akan mengubah orang tersebut. Tapi pernahkan kita berpikir bahwa Tuhan mungkin ingin mengubah kita? Tuhan mungkin secara sengaja menempatkan kita pada posisi tersebut agar kita dapat belajar menguasai diri kita dan mengasihi orang lain..Tuhan dapat memakai kemacetan lalu lintas untuk dapat merubah kita agar kita menjadi lebih sabar. Sebetulnya bukan orang lain yang berubah tapi sikap kita menghadapi orang lain tersebut yang berubah. Sayangnya tidak ada jalan pintas, tidak ada jalan mudah menuju kedewasaan jasmani, emosional maupun rohani. Kita harus belajar dalam proses kehidupan yang kita alami.

Kita sering berdoa, “ Tuhan, jika Engkau mau mengubah keadaan-keadaanku, maka aku akan merubah sikapku”. Tidak, proses perubahan bukan seperti itu. Kita harus mau mengubah sikap-sikap kita dalam menangani masalah-masalah dan sesuatu hal yang mengganggu kita; kemudian baru Tuhan yang akan mengubah keadaan-keadaan tersebut.

Seorang suami mengeluh, “ Tuhan mengapa engkau menempatkan aku bersama wanita ini? Ia tidak dapat melakukan apapun dengan benar. Ia bahkan tidak dapat memasak. Ia tidak dapat membereskan rumah, dll. Tuhan, kapankah engkau akan mengubahnya ? ”Atau bisa jadi seorang istri yang mengeluh, “Tuhan, kapan Engkau merubah sikap suamiku yang tidak sabaran, dan pemarah dan kapan anak-anakku berubah menjadi anak-anak yang mandiri ? ”.Istri/suami tersebut mungkin akan terus mempunyai kelemahan seperti itu sampai sang suami/ istri belajar melupakan kelemahan pasangannya, dan mulai menghargai kenyataan bahwa paling sedikit pasangannya sedang berusaha melakukan sesuatu untuk keluarganya.

Tuhan dengan sengaja menggunakan keadaan-keadaan seperti itu supaya kita dapat mengenali masalah kita sendiri dan belajar untuk menanganinya. Pernahkah kita mempertimbangkan bahwa Tuhan mungkin ingin mengubah kita ? Tuhan dengan sengaja merencanakan bagi kita untuk dekat dengan orang-orang yang sangat ‘mengganggu’ kita agar kita dapat belajar bagaimana mengasihi orang-orang lain disekitar kita yang ‘mengganggu’ dan tidak sesuai dengan keinginan kita.

Yang paling sering kita doakan adalah “ubahkan mereka, Tuhan“. Kita memutuskan apa yang sering membuat kita jengkel harus diubah, dan setelah itu semua akan beres. Tapi lama kelamaan kita mulai menyadari bahwa suami, istri, anak-anak kita maupun orang lain tidak akan pernah menjadi seperti yang kita harapkan. Dan juga kita perlu untuk memahami bahwa kita tidak dapat mengubahnya dengan cara apapun. Baru setelah kita mulai membawa kepada Tuhan segala persoalan, maka kita akan mulai melihat adanya perubahan. Tetapi perubahan itu tidak terjadi dengan cara yang kita harapkan. Mulai dari diri kita sendirilah Tuhan bekerja. Kitalahlah yang mulai berubah, dari cara pandang kita melihat persoalan, dari cara kita menangani masalah, dll yang sedikit demi sedikit akan mengalami perubahan. Hati kita harus dilembutkan, direndahkan, dihancurkan dan dibentuk kembali, sebelum Tuhan mulai bekerja pada orang yang ingin kita rubah. Kita harus belajar melihat segala sesuatu menurut cara Tuhan melihatnya – bukan menurut cara yang kita inginkan.

Ketika kita berdoa bagi suami/istri/anak-anak kita maupun orang disekitar kita, terutama bila kita berharap mengubahnya, kita tentu mengharapkan beberapa perubahan, tetapi perubahan-perubahan yang terjadi bukan pada mereka, tetapi pada kita. Alat yang paling efektif untuk mengubah mereka adalah perubahan yang terjadi dalam diri kita sendiri.

Kita tidak dapat mendoakan : “ Ubahkan mereka, Tuhan “ sebelum kita mengucapkan doa tiga kata ini ; “Ubahlah aku, Tuhan.”
-------------------------------------------------------------------------------------------------
HASRAT UNTUK BERUBAH

Terukir di sebuah makam
di Westminster Abbey, Inggris, 1100 M

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal
Aku bermimpi ingin merubah dunia
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku
Kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah

Maka cita-cita itu pun agak kupersempit
Lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku
Namun tampaknya
Hasrat itu pun tiada hasilnya

Ketika usiaku semakin senja
Dengan semangatku yang masih tersisa
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku
Orang-orang yang paling dekat denganku…

Tetapi celakanya
Mereka pun tidak mau diubah !

Dan kini
Sementara aku berbaring saat ajal menjelang
Tiba-tiba kusadari ……

Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku
Maka dengan menjadikan diriku sebagai panutan
Mungkin aku bisa mengubah keluargaku

Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka
Bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku

Kemudian siapa tahu
Aku bahkan bisa mengubah dunia

Ah ….Penyesalan menjelang ajal tiada guna
Tapi penyesalanku ini
Bisa menjadi pelajaran berharga bagimu
Yang membaca
Dan menerapkannya dalam kehidupan
Ubahlah dirimu sendiri dulu teman ….
Dan dunia akan berubah …
sumber : internet
Berubahlah untuk maju

Segala tulisan yang diilhami Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik
(2 Timotius 3 : 16-17 )

Keluar dari Zona Nyaman

Berubahlah untuk maju ! Itulah slogan iklan susu di salah satu media elektronik. Kita cukup sering mendengar iklan itu ditayangkan namun kita tidak terlalu menggubrisnya. Padahal jika kita pikirkan dan artikan secara mendalam maka kehidupan kita haruslah seperti slogan iklan tersebut. Kita di dalam kehidupan ini dipercayakan Tuhan untuk menggali potensi diri yang ada di dalam diri kita. Tuhan sudah memberikan akal dan pikiran untuk kita gunakan didalam menjalani kehidupan ini. Oleh sebab itu kita dapat menggunakan hal tersebut untuk mengeluarkan kreativitas, ide maupun hal-hal yang dapat membuat kita dan orang lain berkembang. Kita harus berubah dan bergerak untuk maju, bukannya hanya puas dengan kehidupan kita yang sekarang sehingga kita menjadi orang yang diam ditempat saja. Rasa puas dan bersyukur dengan apa yang kita miliki itu sangat baik, tapi jangan disalah artikan bahwa kita sudah cukup puas pada keadaan kita sekarang dan lalu kita tidak melakukan sesuatu hal untuk membuat diri kita sendiri berkembang.
Begitu sering kita seperti seekor katak yang tinggal di sebuah danau yang kecil, yang tidak pernah melihat betapa luasnya laut. Kita telah terbiasa hidup dalam kehidupan kita yang sempit dengan cara pandang yang sempit pula. Kita telah terbiasa pada lingkungan kita yang nyaman, sehingga banyak orang telah merasa puas dengan apa yang telah dicapainya. Padahal jika kita dapat belajar untuk keluar dari lingkungan yang kita anggap nyaman, maka kita dapat melihat suatu keadaan dimana masih banyak kesempatan yang dapat kita raih dan masih banyak kemajuan yang masih dapat kita capai. Tuhan ingin agar kehidupan kita jauh lebih besar dan lebih baik daripada yang dapat kita bayangkan dan pikirkan. Kita harus berani untuk bermimpi lebih besar lagi tapi kita harus melakukan bagian kita dan keluar dari zona nyaman kita.

Jangan puas dengan perubahan kecil

Perubahan untuk maju dapat kita lakukan di dalam segi pekerjaan, usaha, jasmani maupun rohani. Banyak orang cukup puas dengan usaha yang telah dilakukannya seperti mengurangi kebiasan buruk ataupun belajar untuk meningkatkan kemampuan diri. Mulanya kita begitu bersemangat dan begitu berapi-api untuk memulainya. Tetapi setelah beberapa waktu kemudian, kita menjadi malas; lalu kita menjadi puas diri. Kita sudah merasa bahwa kita sudah melakukan usaha untuk melakukan perbaikan dan usaha itu menghasilkan sedikit perkembangan, lalu kita cukup puas pada hasilnya sehingga kita tidak melakukan usaha lagi untuk perbaikan.
Ada seseorang yang ingin merubah kebiasan buruknya dalam hal merokok. Dan dia berkata, “Saya sudah melakukan usaha untuk mengurangi kebiasaan merokok, dulu saya merokok dua bungkus sehari, dan sekarang hanya satu bungkus”. Dan ia cukup puas dengan usahanya sehingga kemudian tidak meneruskan usahanya kembali untuk mengurangi bahkan memberhentikan kebiasan buruknya itu. Dimana ia seharusnya bisa melakukan kemajuan lagi dengan usahanya untuk berhenti dari kebiasan buruknya .Banyak orang telah puas dengan apa yang sudah dicapainya, Kita merasa bahwa kita sudah maksimal didalam pekerjaan, karir, pendidikan, kreativitas maupun dalam hal kehidupan rohani. Padahal sebenarnya kita masih dapat melakukan usaha lain untuk mencapai perkembangan dan kemajuan yang lebih besar.
Kehidupan rohani kita pun demikian. Kita seringkali sudah merasa cukup dengan menghadiri kebaktian satu minggu sekali dan kita tidak pernah belajar lagi untuk mengembangkan kehidupan rohani dan iman kita. Padahal masih banyak yang masih dapat kita lakukan untuk memperkaya sisi kehidupan rohani kita. Kita dapat belajar dari buku-buku rohani yang dapat memotivasi kita untuk berkembang, belajar dari Pemahaman Alkitab, maupun dari persekutuan-persekutuan yang diadakan di Gereja maupun di rumah-rumah jemaat. Iman harus terus dibina dan dikembangkan. Kita tidak boleh puas dengan apa yang telah kita capai sekarang khususnya dalam kehidupan rohani. Jika kita tidak mengembangkan kehidupan rohani kita dan tidak membina iman kita, bisa jadi lama-kelamaan kita terseret oleh pengaruh lingkungan dan arus pergaulan yang dapat menyesatkan kehidupan kita. Kepekaan mendengar suara Tuhan hanya dapat kita punya jika kita belajar untuk menggali firmanNya, dalam hal ini belajar lebih dalam lagi tentang isi Alkitab.

Berkembanglah terus

Memang dibutuhkan usaha untuk bisa mencapai sasaran kita dalam kemajuan, dan usaha awal itu adalah permulaan yang baik. Tetapi jangan cepat merasa puas. Jangan puas dengan sedikit perkembangan. Untuk berkembang tidak akan pernah ada akhirnya. Kejarlah terus sasaran-sasaran yang lain. Kita diciptakan untuk sesuatu yang lebih baik. Segala sesuatu mungkin sulit, tidak ada yang mendukung kita untuk mencapai sasaran kita. Tapi ingatlah bahwa kita memiliki Tuhan yang akan menolong kita mewujudkan sasaran kita untuk berkembang kearah yang lebih baik. Tuhan adalah sumber dari semuanya dan sumber dari Tuhan tidak terbatas. Oleh sebab itu janganlah bosan untuk belajar, karena dengan belajar kita akan mendapatkan sesuatu pelajaran yang akan dapat membuat kita mengembangkan diri kita sendiri maupun orang lain. Sekarang marilah kita bertanya pada diri kita sendiri; Apakah kita puas dengan pengetahuan kita sekarang ? Bagaimana hubungan kita dengan Tuhan? Apakah ada kerinduan dalam hati kita untuk semakin mempererat hubungan itu? Apakah kita puas dengan apa yang sekarang kita ketahui tentang Alkitab? Apakah kita mau mengembangkan pengetahuan kita kearah yang lebih baik ?

Mulai sekarang marilah kita bersama-sama belajar untuk maju dan berkembang. Jangan pernah berhenti belajar. Seperti Amsal Salomo yang berkata : “Dengarkanlah nasihat dan terimalah didikan, supaya engkau menjadi bijak di masa depan” (Amsal 19:20)

- Sentuhan hati. Vol.5, No. 7 Mei 2005
- Joel Oesteen, Your best life now, Immanuel, 2007

Thursday, July 24, 2008

Doaku Terjawab Sudah

Ketika kumohon pada Tuhan kekuatan,
Tuhan memberiku kesulitan agar aku menjadi kuat

Ketika kumohon pada Tuhan kebijaksanaan,
Tuhan memberiku masalah untuk kupecahkan

Ketika kumohon pada Tuhan kesejahteraan,
Tuhan memberiku akal untuk berfikir

Ketika kumohon pada Tuhan keberanian,
Tuhan memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi

Ketika kumohon pada Tuhan sebuah cinta,
Tuhan memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong

Ketika kumohon pada Tuhan bantuan,
Tuhan memberiku kesempatan

Aku tak pernah menerima apa yang kupinta,
Tapi aku menerima segala yang kubutuhkan.


Thursday, June 26, 2008

Berhasil di dalam Tuhan
Yosua 1 : 1-9


Bagaimana kita dapat berhasil di dalam Tuhan ? Kita dapat belajar dari perjalanan hidup Yosua yang berhasil memasuki tanah perjanjian. Ada langkah- langkah yang harus kita lakukan supaya kita berhasil di dalam Tuhan yaitu :

Mendengarkan firman/ suara Tuhan (Yosua 1 : 1)

Agar kita berhasil di dalam Tuhan maka langkah yang pertama adalah kita harus setia mendengarkan firman., yang bisa didapat dari membaca firman Tuhan setiap hari maupun mendengarkan kotbah/renungan baik di gereja maupun di media lain (TV, radio, dll. ). Kita wajib membaca dan merenungkan Firman Tuhan setiap hari agar kita dapat mengerti kehendak Tuhan sehingga firman Tuhan dapat menguatkan pikiran dan hati kita didalam menjalani kehidupan. Jika kita terbiasa membaca Firman Tuhan maka kita juga akan terbiasa dalam mendengarkan suara Tuhan. Firman Tuhan dapat menjadi pedoman dalam mencari keberhasilan dan kebenaran didalam Tuhan. Dengan Firman Tuhan kita dapat mengetahui apakah tindakan dan perilaku kita sudah sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak. Hati nurani kita akan semakin terasah dan peka akan suara Tuhan dan kehendakNya bagi kita jika kita terbiasa membaca dan merenungkan firmanNya.

Berani menerima tantangan (Yosua 1 :2)

Dengan adanya firman Tuhan di dalam hati kita maka kita siap menerima dan menjalani tantangan yang harus kita hadapi agar kita semakin dewasa di dalam Tuhan. Seperti ada pepatah cina yang mengatakan “ Perjalanan 1000 meter dimulai dengan langkah pertama “ yang artinya agar kita semakin dewasa menurut Tuhan maka kita harus berani melangkah untuk dapat mengatasi tantangan yang ada. Seperti Yosua yang berani melangkahkan kaki di sungai Yordan, sehingga aliran sungai Yordan terhenti dan mereka dapat menyebranginya. Langkah pertama memang berat dilakukan, tapi jika kita mau bertumbuh dan berhasil di dalam Tuhan maka kita harus melakukan langkah pertama tersebut. Kitalah yang memulai langkah pertama selanjutnya Tuhan yang akan bertindak meneruskan langkah kita.

Memegang Janji Tuhan (Yosua 1:3 - 5)

Langkah yang ketiga adalah dengan memegang janji Tuhan. Kita dapat memegang janji Tuhan karena janjiNya adalah setia dan tetap. Tuhan akan menyertai kita dimanapan dan kapanpun. Tuhan yang menyertai Yosua, Daud, Abraham akan selalu menyertai kita juga. Firman Tuhan perlu kita renungkan dan lakukan, jika perlu kita hafalkan ayat-ayat yang berisi tentang janji Tuhan. Sehingga jika kita mengalami kebimbangan ataupun kekhawatiran, kita dapat diingatkan oleh janji Tuhan. Seperti Daud yang berani menghadapi tantangan Goliat, karena dia mengingat pertolongan Tuhan yang telah menyertai dia di padang dalam menghadapi serangan serigala dan beruang akan menolong dia juga dalam menghadapi kekuatan Goliat.

Sebab itu haruslah kauketahui, bahwa Tuhan Allahmu, Dialah Allah, Allah yang setia, yang memegang perjanjian dan kasih setiaNya terhadap orang yang kasih kepadaNya dan berpegang pada perintahNya, sampai kepada beribu-ribu keturunan. (Ulangan 7 : 9)

Kuat dan teguhkan hati (Yosua 1: 6- 9)

Tuhan menyuruh Yosua agar kuat dan meneguhkan hatinya dalam menghadapi tantangan. Kita tidak boleh bimbang dan ragu-ragu dalam melangkah dan mengambil tindakan karena kita yakin dan percaya bahwa Tuhan akan menolong kita dalam segala hal dan Tuhan akan menyertai kita dimanapun kita berada.

Sebab Tuhan, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati. ( Ulangan 31 : 8)